Paradigma Psikologi Kepribadian Cognitive dan Behavioristic

A.   Pengertian Paradigma

Kata paradigma berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin ditahun 1483 yaitu paradigma yang berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani paradeigma (para+deiknunai) yang berarti untuk “membandingkan”, “bersebelahan” (para) dan memperlihatkan (deik).

Secara etimologis, Paradigma : model teori ilmu pengetahuan atau kerangka berpikir.

Secara terminologis, Paradigma : pandangan mendasar para ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan.

Pengertian paradigma menurut kamus filsafat adalah :

  1. Cara memandang sesuatu
  2. Model, pola, ideal dalam ilmu pengetahuan. Dari model-model ini fenomena dipandang dan dijelaskan.
  3. Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan dan atau mendefinisikan suatu studi ilmiah kongkrit dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu.
  4. Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.

Istilah paradigama ilmu pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn melalui bukunya yang berjudul “The Structur of Science Revolution”. Thomas Kuhn menjelaskan paradigma dalam dua pengertian, yaitu :

  1. Paradigma berarti keselurahan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu.
  2. Paradigma menunjukkan sejenis unsur pemecahan teka-teki yang konkrit yang jika digunakan sebagai model, pola atau contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah yang secara eksplisit sebagai atau menjadi dasar bagi pemecahan permasalahan dan teka-teki normal sains yang belum tuntas.

Pengertian paradigma menurut Patton(1975) : “A world view, a general perspective, a way of  breaking down of the complexity of the real world”(suatu pandangan dunia, suatu cara pandang umum, atau suatu cara untuk menguraikan kompleksitas dunia nyata).

Pengertian paradigma menurut Robert Friedrichs(1970) : Suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari.

Pengertian paradigma menurut George Ritzer(1980) : Pandangan yang mendasar dari para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang atau disiplin ilmu pengetahuan. Lebih lanjut Ritzer mengungkapkan bahwa paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan yang harus dijawab, bagaimana harus menjawabnya, serta aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang harus dikumpulkan informasi yang dikumpulkan dalam menjawab persoalan-persoalan tersebut. Dari pengertian ini dapat disimpulkan, dalam suatu cabang ilmu pengetahuan dimungkinkan terdapat beberapa paradigma. Artinya dimungkinkan terdapatnya beberapa komunitas ilmuwan yang masing-masing berbeda titik pandangnya tentang apa yang menurutnya menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari dan diteliti oleh cabang ilmu pengetahuan tersebut.

Pengertian paradigma menurut Masterman diklasifikasikan dalam 3 pengertian paradigma :

  1. Paradigma metafisik yang mengacu pada sesuatu yang menjadi pusat kajian ilmuwan.
  2. Paradigma sosiologi yang mengacu pada suatu kebiasaan sosial masyarakat atau penemuan teori yang diterima secara umum.
  3. Paradigma konstrak sebagai sesuatu yang mendasari bangunan konsep dalam lingkup tertentu, misalnya paradigma pembangunan, paradigma pergerakan dll..

Masterman sendiri merumuskan paradigma sebagai pandangan mendasar dari suatu ilmu yang menjadi pokok persoalan yang dipelajari( a fundamental image a dicipline has of its subject matter).

B.   Pengertian Psikologi

psikology

Psikologi diakui sebagai ilmu yang berdiri sendiri pada tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt mendirikan laboratorium psikologi di Leipzig, Jerman. psikologi mengalami perkembangan yang pesat, yang ditandai dengan lahirnya bermacam-macam aliran dan cabang. Aliran-aliran psikologi lahir karena adanya pemahaman dan keyakinan para ahli yang berbeda-beda dalam memandang manusia.

Aliran-aliran yang berkembang dalam bidang psikologi diantaranya :

  1. Strukturalisme
  2. Fungsionalisme
  3. Behaviorisme
  4. Psikologi gestalt
  5. Psikologi dalam
  6. Psikologi humanistik, dst.

Sedangkan cabang-cabang psikologi berkembang sebagai hasil dari pengkajian perilaku manusia ditinjau dari sudut pandang tertentu. Cabang-cabang psikologi diantaranya :

    1. Psikologi perkembangan
    2. Psikologi pendidikan
    3. Psikologi sosial
    4. Psikologi kepribadian
    5. Psikologi abnormal
    6. Psikologi kesehatan
    7. Psikologi olah raga, dst

C.   Pengertian Kepribadian

  1. Secara Etimologis

Istilah kepribadian dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan personality. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu persona, yang berarti topeng dan personare, yang artinya menembus.

Istilah personality oleh para ahli dipakai untuk menunjukkan suatu atribut tentang individu, atau untuk menggambarkan apa, mengapa, dan bagaimana tingkah laku manusia.

2.   Definisi Kepribadian Menurut Para Ahli

Berikut ini dikemukakan beberapa ahli yang definisinya dapat dipakai acuan dalam mempelajari kepribadian.

a.      GORDON W. W ALLPORT

Mulanya Allport mendefinisikan kepribadian sebagai “What a man really is.” Tetapi definisi tersebut oleh Allport dipandang tidak memadai lalu dia merevisi definisi tersebut (Soemadi Suryabrata, 2005: 240). Definisi yang kemudian dirumuskan oleh Allport adalah: “Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical systems that determine his unique adjustments to his environment” (Singgih Dirgagunarso, 1998 : 11).

Yang artinya : “Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.”

b.      KRECH dan CRUTCHFIELD

David Krech dan Richard S. Crutchfield (1969) dalam bukunya yang berjudul Elelemnts of Psychology merumuskan definsi kepribadian sebagai berikut : “Personality is the integration of all of an individual’s characteristics into a unique organization that determines, and is modified by, his attemps at adaption to his continually changing environment.”

         “Kepribadian adalah integrasi dari semua karakteristik individu ke dalam suatu kesatuan yang unik yang menentukan, dan yang dimodifikasi oleh usaha-usahanya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah terus-menerus”

c.      ADOLF HEUKEN, S.J. dkk

Adolf Heuken S.J. dkk. dalam bukunya yang berjudul Tantangan Membina Kepribadian (1989 : 10), menyatakan sebagai berikut.

        “Kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmani, mental, rohani, emosional maupun yang sosial. Semuanya ini telah ditatanya dalam caranya yang khas di bawah beraneka pengaruh dari luar. Pola ini terwujud dalam tingkah lakunya, dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana dikehendakinya”.

3.    Konsep yang berhubungan dengan Kepribadian

Ada beberapa konsep yang berhubungan erat dengan kepribadian bahkan kadang-kadang disamakan dengan kepribadian. Konsep yang berhubungan dengan kepribadian adalah (Alwisol, 2005 : 8-9) :

  1. Character (karakter), yaitu penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
  2. Temperament (temperamen), yaitu kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologis atau fisiologis.
  3. Traits (sifat-sifat), yaitu respon yang senada atau sama terhadap sekolopok stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu (relatif) lama.
  4. Type attribute (ciri), mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli yang lebih terbatas.
  5. Habit (kebiasaan), merupakan respon yang sama dan cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula.

4.    Ciri-ciri Kepribadian

a.     Kepribadian bersifat umum

b.     Kepribadian bersifat khas

c.      Kepribadian berjangka lama

d.      Kepribadian bersifat kesatuan

e.      Kepribadian bisa berfungsi baik atau buruk

D.   Psikologi Kepribadian

Psikologi kepribadian merupakan pengetahuan ilmiah. Sebagai pengetahuan ilmiah, psikologi kepribadian menggunakan konsep-konsep dan metoda-metoda yang terbuka bagi pengujian empiris. Penggunaan konsep-konsep dan metoda-metoda ilmiah dimaksudkan agar psikologi kepribadian bisa mencapai sasarannya, yaitu : pertama, memperoleh informasi mengenai tingkah laku manusia dan kedua, mendorong individu-individu agar bisa hidup secara penuh dan memuaskan (Koeswara,1991: 4).

Yang membedakan psikologi kepribadian dengan cabang-cabang lainnya adalah usahanya untuk mensintesiskan dan mengintegrasikan prinsip-prinsip yang terdapat dalam bidang-bidang psikologi lain tersebut. Dalam bidang psikologi tidak ada satu bidang pun yang memiliki daerah yang demikian luas seperti psikologi kepribadian (Koeswara, 1991 : 4).

Usaha untuk memperoleh pemahaman mengenai perilaku manusia bukan hanya dimaksudkan untuk melampiaskan hasrat ingin tahu saja tetapi juga diharapkan bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Pengetahuan mengenai perilaku individu-individu beserta faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tersebut hendaknya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan terapan atau praktik seperti psikoterapi dan program-program bimbingan, latihan dan belajar yang efektif, juga melalui perubahan lingkungan psikologis sedemikian rupa agar individu-individu itu mampu mengembangkan segenap potensi yang dimiliki secara optimal (Koeswara, 1991 : 4-5).

E.   Pengertian Cognitive 

personality1

Kognisi adalah istilah ilmiah untuk “proses pikiran” yaitu bagaimana manusia melihat, mengingat, belajar dan berpikir tentang informasi. Penggunaan istilah bervariasi di berbagai disiplin ilmu, misalnya dalam psikologi dan ilmu kognitif, biasanya mengacu pada pandangan pengolahan informasi fungsi psikologis individu.

Istilah kognisi (Latin: cognoscere, “tahu”, “untuk konsep” atau “mengenali”) mengacu untuk memproses informasi, menerapkan pengetahuan, dan preferensi berubah. Kognisi, atau proses kognitif, bisa alami atau buatan, sadar atau tidak sadar. Proses ini dianalisis dari perspektif yang berbeda dalam konteks yang berbeda, terutama di bidang linguistik, anestesi, neurologi, psikologi, filsafat, antropologi, systemics, ilmu komputer dan keyakinan.

F.   Psikologi Cognitive

Dalam psikologi atau filsafat, konsep kognisi terkait erat dengan konsep-konsep abstrak seperti pikiran, kecerdasan, kognisi digunakan untuk merujuk pada fungsi mental, proses mental (pikiran) dan negara-negara entitas cerdas (manusia, organisasi manusia, mesin yang sangat otonom dan buatan kecerdasan).

Aspek kognitif

  1. Kematangan → Semakin bertambahnya usia, maka semakin bijaksana seseorang.
  2. Pengalaman → hasil interaksi dengan orang lain.
  3. Transmisi sosial → hubungan sosial dan komunikasi yang sesuai dengan lingkungan.
  4. Equilibrasi → perpaduan dari pengalaman dan proses transmisi sosial.

Piaget mengemukakan beberapa hukum-hukum tentang kognitif, yaitu :

  1. Setiap orang punya aspek kognitif, yang terdiri dari aspek-aspek struktural intelektual.
  2. Perkembangan kognitif adalah hasil interaksi dari kematangan organisme dan pengaruh lingkungan.
  3.  Proses kognitif itu meliputi aspek persepsi, ingatan, pikiran, simbol-simbol, penalarandan pemecahan persoalan.
  4. Dalam psikologi kognitif, bahasa menjadi salah atu objek yang penting, karena merupakan perwujudan sikap kognitif.
  5. Sisi-sisi kognitif dipengaruhi oleh lingkungan dan biologis.

Prinsip dasar psikologi kognitif :

  1. Belajar aktif
  2. Belajar lewat interaksi sosial
  3. Belajar lewat pengalaman sendiri. Di dalam dunia psikologi, mempelajari psikologi kognitif sangat diperlukan, karena :
    a.    Kognisi adalah proses mental atau pikiran yang berperan penting dan mendasar bagi studi-studi psikologi manusia.
    b.    Pandangan psikologi kognitif banyak mempengarui bidang-bidang psikologi yang lain. Misalnya pendekatan kofnitif banyak digunakan di dalam psikologi konseling, psikologi konsumen dan lain-lain.
    c.     Melalui prinsi-prinsip kognisi, seseorang dapat mengelola informasi secara efisien dan terorganisasikan dengan baik.

G.   Pengertian Behavioristic

psiko behav

Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.

Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt. Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan lanjutan dari fungsionalisme.

Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.  Meskipun pandangan Behaviorisme sekilas tampak radikal dan mengubah pemahaman tentang psikologi secara drastis, Brennan (1991) memandang munculnya Behaviorisme lebih sebagai perubahan evolusioner daripada revolusioner.

Prinsip-prinsip dasar Behaviorisme :

  1. Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
  2. Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
  3. Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
  4. Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
  5. Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
  6. Banyak ahli (a.l. Lundin, 1991 dan Leahey, 1991) membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.

Tokoh-tokoh Behavioristic ini adalah :

  1. Jean B. Watson
  2. Clark L. Hull
  3. B. F Skinner
  4. Albert Bandura

Contoh Kasus :

Saya adalah seorang mahasiswa Fakultas Keperawatan dari salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Saya memiliki kepribadian yang tergolong sulit diatur, pemalas, keras kepala, agak pemalu, dan jika sedang berbicara selalu tidak terkontrol. Banyak teman-teman saya mengatakan seperti itu. Namun dengan seiring berjalannya waktu dan perbedaan kebudayaan yang baru-baru ini saya jalani, kepribadian saya agak mulai berubah menjadi lebih berani, lebih menghargai orang lain dan belajar lebih tekun lagi. Selain itu, saya bisa belajar lebih berani mengungkapkan pendapat saya ke depan umum. Selain pengaruh kebudayaan, kegiatan sewaktu masa Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) juga menjadikan saya seorang yang kuat. Karena didikan dan pelajaran yang saya terima di PMB, saya bisa mendapatkan hasil yang memuaskan. Bisa menjadi kepribadian yang kuat, berani mengungkapkan pendapat, menghargai orang lain, menghargai lingkungan dan bersikap lebih ramah lagi terhadap siapa saja. Dan juga bisa menaati tata tertib yang ada di Fakultas saya. Seperti tidak memaki jeans dan baju yang ketat, datang tepat waktu saat sedang ada kuliah, dan menghargai dosen menerangkan apa yang sedang dibahas. Dan disaat waktu senggang, saya juga memanfaatkannya untuk mempelajari kembali apa yang diterangkan oleh dosen sewaktu kuliah. Dengan begitu, kemampuan saya dalam menguasai materi dapat saya kuasai dengan optimal. Kuncinya adalah mengubah kepribadian buruk kita menjadi kepribadian yang lebih baik.

Referensi :

  1. http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2174575-pengertian-kognitif/#ixzz2oD8QpZxO
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Personality_psychology
  3. Atkinson, Rita L., dkk. 1999. Pengantar Psikologi Jilid 1.Jakarta: Penerbit Erlangga.
  4. Sobur, Alex. 2009. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia.
  5. Kuntjojo. 2009. Psikologi Kepribadian. Kediri.